Sugeng Maos

Rabu, 23 Januari 2008

Menjadi telinga bagi siswa

"Hukum ketertarikan akan merespon getaran apapun yang anda pancarkan dengan mendatangkan getaran yang lebih banyak, tidak peduli apakah getaran itu positif atau negatif.
(Michael J. Losser, "Law of Attraction")

“Mengapa perlu didengar?”
Di dalam pemberitaan baik dari media cetak maupun elektronik kita sering melihat terjadinya ketegangan hubungan antar negara. Hal tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya karena komunikasi yang tidak lancar. Masih banyak contoh lain berbagai kegagalan yang disebabkan masalah komunikasi. Siapapun orangnya apabila perkataannya tidak didengarkan tentu akan jengkel. Kita pun yang notabene seorang guru apabila pelajaran yang kita sampaikan kepada siswa tidak didengar pastinya akan marah juga. Melihat hal itu, mendengarkan merupakan kekuatan yang dahsyat yang sangat mempengaruhi hubungan antar manusia. Kegagalan untuk dapat didengarkan dan dimengerti membuat manusia begitu tersakiti.
Kebudayaan yang semakin modern semakin membentuk manusia menjadi pribadi-pribadi yang individualis, yang memaksa kita untuk menemukan jalan sendiri dengan melepaskan jaringan komunikasi - manusia hidup dalam “kotak-kotak”nya sendiri. Kita menganggap sebagai individu, namun sebenarnya kita tertanam pada jaringan hubungan komunikasi yang khas. Konflik atau hubungan yang tidak lancar tidak akan menghilang dengan sendirinya ketika kita tidak berusaha untuk mendengarkan, memahami suara orang lain.
Mendengarkan begitu mendasar dalam hidup manusia sehingga sering luput dari perhatian. Mendengarkan berarti memperhatikan, peduli, berminat, turut merasakan, membenarkan, menanggapi, tersentuh, ... menghargai. Kebutuhan untuk dihargai dan ditanggapi dapat menimbulkan frustasi.. Anak mengeluh bahwa guru mereka acuh tak acuh terhadap situasi mereka dan guru mengeluh siswa tidak mendengarkan mereka. Semua saling sibuk dengan keluhan mereka. Keluhan menunjukkan ada sesuatu yang perlu untuk didengarkan, tidak peduli apakah itu positif atau negatif.

“Mereka membutuhkan”
Anak yang datang ke sekolah membawa situasi diri yang bermacam-macam. Ada yang bersemangat dan bahagia karena pagi itu mendapatkan hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya, tetapi di sisi lain ada juga yang dengan perasaan tertekan, marah, bingung, frustasi karena sewaktu mau berangkat sekolah keduanya orang tuanya sudah bertengkar atau situasi keluarga tidak harmonis. Situasi tersebut akan terbawa dalam proses belajar mereka di kelas. Anak yang bersemangat dan bahagia akan menunjukkan sikap yang bersemangat dalam proses belajar tetapi anak yang tertekan, marah, frustasi, bingung akan menunjukkan sikap apatis bahkan destruktif (merusak) terhadap proses belajar di kelas. Anak yang mempunyai situsai seperti itu tidak mendengarkan sewaktu guru sedang berada di dalam kelas karena mereka lelah. Mereka terpaku oleh perasaan marah, frustasi, tertekan yang mereka bawa.
Dalam situasi pengajaran, kita sebagai seorang guru, seringkali menghadapi situasi anak yang apatis terhadap materi yang diajarkan. Sikap yang mereka kerjakan adalah cuek, ngomong sendiri, diam tetapi tidak mendengarkan, dan lain-lain. Hal yang sering kita lakukan adalah mendiamkan (pura-pura tidak ada masalah), menegur, memarahi, ataupun mengeluarkan mereka dari kelas. Tindakan tersebut sangat wajar untuk dilakukan tetapi hanya akan mengatasi masalah sesaat – saat itu beres hari selanjutnya akan muncul kembali. Anak yang datang ke sekolah dengan membawa suasana hati yang tidak aman sangat membutuhkan telinga-telinga yang mau mendengarkan keluhannya. Ketidakmampuan untuk mendapatkan perhatian yang sangat mereka butuhkan membuat mereka semakin tidak berdaya.
Kita adalah seorang “guru” yang tidak hanya melakukan transfer ilmu tetapi juga sebagai “pendidik”. Dalam situasi ini kita harus melepaskan status kita sebagai seorang “guru” dan beralih menjadi “pendidik”. Kita harus mengajak mereka untuk berbicara (menjadi telinga) secara pribadi. Tanggapan yang ideal terhadap siswa yang uring-uringan adalah karena sesuatu hal adalah mengakui perasaanya. Tetapi sebagian besar dari kita nyaris mustahil mendengarkan siswa yang teriak-teriak dalam kemarahannya. Ledakan kemarahan tersebut harus kita lihat sebagai kewajaran dimana mereka sebenarnya merasa lemah, tidak berdaya, tanpa kuasa.
Siswa yang “rapuh” gampang sekali untuk kehilangan kontrol diri walaupun menghadapi sedikit kritik. Setiap individu yang pada tahap tertentu merasa tidak aman, terancam akan cenderung untuk membela diri, bukan membuka diri terhadap pendapat orang lain. Membiarkan orang lain menjelaskan pendapatnya sampai tuntas amat penting dan amat sulit jika mereka memberikan kritik. Mendengarkan kritik memang salah satu tantangan yang paling berat untuk dihadapi. Tetapi bila ditanggapi dengan kemarahan hanya akan memperburuk situasi. Bagi siswa yang tertutup, dekatilah mereka tanpa menjadi tegang. Keterbukaan tanpa paksaan membantu mengendurkan asumsi untuk membuka diri. Empati dan kelembutan akan memberi keleluasaan. Kita harus berusaha menyentuh hati mereka, bahkan mengenai masalah yang paling sulit sekalipun, dengan pertama-tama mendengarkan pendapat mereka mengenai masalah itu dan kemudian, secara halus tetapi tegas, mendesak mereka untuk setidaknya mendengarkan pendapat kita.

“Apa yang didapat”
Dengan didengarkan, siswa akan menemukan dirinya sebagai insan yanng dimengerti dan diterima. Bagi kita, imbalannya adalah anak menjadi lebih terbuka dan akrab sehingga dapat menyentuh dan memperkayanya. Mengubah hubungan kita dengan siswa tidak berarti mengubah mereka, biarkan mereka tetap menjadi individu-individu yang unik. Kita semua menjunjung tinggi keadilan dan penghargaan untuk orang lain. Kita percaya bahwa “welas asih” dan keadilan sangat berharga dan bahwa setiap manusia berhak untuk didengarkan. Tentu saja kita lebih pandai untuk mengungkapkan daripada menjalankan. Keharusan untuk mendengarkan bisa dirasakan sebagai beban yang memberatkan. Tetapi didorong perasaan bahwa orang lain dalam hidup kita “layak” didengarkan, bahwa kita menyadari martabat dan nilai mereka, mendengarkan adalah sesuatu yang berbeda.

Tidak ada komentar: