Hidup ini memang penuh cobaan
Mungkin itu kalimat yang cocok untuk menggambarkan peristiwa kegagalan pulang kampung waktu libur Natal 2007
Tanggal 26 malam kira-kira jam 19.30 aku dan keluargaku naik bis malam OBL menuju Jogja. Dalam perjalanan kami bercanda sambil membayangkan kegembiraan nanti sesampainya di Jogja.
Sampai di kota Ngawi kira-kira jam 00.30 dini hari. Saat itulah cobaan dimulai. Kami terjebak oleh banjir, tidak hanya kami sendiri. Di tempat itu sudah ber"jejer-jejer" deretan mobil, bus, truk yang semuanya berhenti karena banjir.
Awalnya kejenuhan menunggu air surut tidak begitu terasa karena banyaknya saudara senasib.
Jangan ditanya kami mandi atau nggak ! Mau mandi dimana, lha wong semuanya dipenuhi air.
Untuk makan saja kesulitan. Pagi kami makan mirip "sego kucing"-nya orang Jogja. Isinya ya... kayak gitu. Pokoknya bisa untuk "ngganjel" perut
Waktu demi waktu
berjalan tak terasa sudah hampir 13 jam kami menunggu air surut, tapi kok nggak ada tanda-tanda akan surut malah tambah naik. Itu kelihatan dari sawah disamping jalan yang awalnya masih tampak padinya berubah menjadi kayak danau. Demikian juga gedung di samping jalan mulai kebanjiran.
Anak-anak sudah mulai stress, capek, panas, dan harapan sampai ke Jogja sudah melayang jauh. Setelah rembugan dengan istri, akhirnya diputuskan kembali ke Malang (waktu kami putuskan itu penumpang yang ada di bis tinggal 6 orang karena yang lainnya sudah lari sendiri-sendiri)
Awalnya kami bingung, mau naik apa untuk kembali ke Malang. Untung ada seorang ibu bersama suaminya (maaf kami lupa namanya) yang sangat baik mau membantu kami bahkan bersedia mengantarkan sampai stasiun Paron.
Di sana .
.. begitu penuh sesak orang-orang yang terjebak banjir dan ingin melanjutkan perjalanan. (Akses untuk ke Jogja atau ke Surabaya dari Ngawi hanya naik kereta api).
Setelah berdesak-desakan untuk antri tiket (mirip kalau mau lebaran), kami pun duduk-duduk sambil menunggu kereta datang.
Saat itu hujan sangat deras dan keadaan stasiun gelap karena dari pagi listrik mati
Setelah menunggu kurang lebih 2 jam akhirnya kereta ke Surabaya datang, tetapi begitu penuh sesak. Aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak nanti.
Sambil berlari-lari (dibawah kucuran hujan yang deras) kami harus berebut untuk masuk ke gerbong. Dan yang kami dapat hanya berdiri disambungan gerbong, itupun penuh sesak juga tapi yang penting terangkut.Mungkin itu kalimat yang cocok untuk menggambarkan peristiwa kegagalan pulang kampung waktu libur Natal 2007
Tanggal 26 malam kira-kira jam 19.30 aku dan keluargaku naik bis malam OBL menuju Jogja. Dalam perjalanan kami bercanda sambil membayangkan kegembiraan nanti sesampainya di Jogja.
Sampai di kota Ngawi kira-kira jam 00.30 dini hari. Saat itulah cobaan dimulai. Kami terjebak oleh banjir, tidak hanya kami sendiri. Di tempat itu sudah ber"jejer-jejer" deretan mobil, bus, truk yang semuanya berhenti karena banjir.
Awalnya kejenuhan menunggu air surut tidak begitu terasa karena banyaknya saudara senasib.
Jangan ditanya kami mandi atau nggak ! Mau mandi dimana, lha wong semuanya dipenuhi air.
Untuk makan saja kesulitan. Pagi kami makan mirip "sego kucing"-nya orang Jogja. Isinya ya... kayak gitu. Pokoknya bisa untuk "ngganjel" perut
Waktu demi waktu
berjalan tak terasa sudah hampir 13 jam kami menunggu air surut, tapi kok nggak ada tanda-tanda akan surut malah tambah naik. Itu kelihatan dari sawah disamping jalan yang awalnya masih tampak padinya berubah menjadi kayak danau. Demikian juga gedung di samping jalan mulai kebanjiran.Anak-anak sudah mulai stress, capek, panas, dan harapan sampai ke Jogja sudah melayang jauh. Setelah rembugan dengan istri, akhirnya diputuskan kembali ke Malang (waktu kami putuskan itu penumpang yang ada di bis tinggal 6 orang karena yang lainnya sudah lari sendiri-sendiri)
Awalnya kami bingung, mau naik apa untuk kembali ke Malang. Untung ada seorang ibu bersama suaminya (maaf kami lupa namanya) yang sangat baik mau membantu kami bahkan bersedia mengantarkan sampai stasiun Paron.
Di sana .
.. begitu penuh sesak orang-orang yang terjebak banjir dan ingin melanjutkan perjalanan. (Akses untuk ke Jogja atau ke Surabaya dari Ngawi hanya naik kereta api).Setelah berdesak-desakan untuk antri tiket (mirip kalau mau lebaran), kami pun duduk-duduk sambil menunggu kereta datang.
Saat itu hujan sangat deras dan keadaan stasiun gelap karena dari pagi listrik mati
Setelah menunggu kurang lebih 2 jam akhirnya kereta ke Surabaya datang, tetapi begitu penuh sesak. Aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anak nanti.
Kira-kira perjalanan 1 jam kesesakan sudah mulai berkurang. Akhirnya kami bisa masuk gerbong. Dapat 1 tempat duduk digunakan anak-anak untuk tidur (kasihan melihat mereka begitu kelelahan)
Setelah 5 jam perjalanan akhirnya kami turun di stasiun Wonokromo (kira-kira pukul 11 malam).
Setelah susah payah mencari kendaraan ke Malang akhirnya dapat juga. Sampai di Malang jam 01.30 dini hari.
Rasanya lega sampai di rumah, meskipun membawa kekecewaan
Setelah 5 jam perjalanan akhirnya kami turun di stasiun Wonokromo (kira-kira pukul 11 malam).
Setelah susah payah mencari kendaraan ke Malang akhirnya dapat juga. Sampai di Malang jam 01.30 dini hari.
Rasanya lega sampai di rumah, meskipun membawa kekecewaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar